“TRAGEDY OF THE COMMONS”: SITUASI BERBAHAYA BAGI UMAT MANUSIA

Pada suatu ketika, ada 4 orang peternak yang hidup di satu permukiman desa. Para peternak tersebut bersama-sama menggunakan suatu lahan yang besar untuk memelihara sapi sebagai hewan ternaknya. Dalam penggunaannya, para peternak itu membuat perjanjian untuk memelihara 2 sapi dari setiap peternak, membuat lahan tersebut menampung 8 sapi. Perjanjian dibuat atas dasar kemampuan rumput di lahan untuk pertumbuhan sapi yang sudah dikalkulasi dan diprediksi oleh para peternak. Dengan adanya perjanjian itu, dapat dipastikan kemampuan lahan yang dipakai akan tetap terjaga dan stabil untuk pertumbuhan sapi-sapi para peternak. 

Namun, apa yang terjadi jika salah satu peternak melanggar perjanjian itu? Bagaimana jika salah satu peternak menambahkan sapi ke dalam lahan? Dan peternak yang lain juga ikut menambahkan sapi ke lahan tersebut? Lahan tidak akan bertambah luas, daya tampungnya juga tidak akan bertambah, pertumbuhan rumput akan kalah cepat dibanding konsumsinya. Dengan begitu, dalam kurun waktu yang cepat, lahan tersebut tidak akan bisa dipakai lagi untuk beternak. 

Hal ini dinamakan Tragedy of The Commons ​atau Tragedi Kepemilikan Bersama, sebuah pemikiran dari Garrett Hardin yang ia kemukakan dalam artikelnya dengan judul yang sama pada tahun 1968. Kata “Tragedy​ ​” berarti suatu kejadian yang menyedihkan dan “Commons​ ​” adalah milik bersama. Dengan kata lain, Tragedy of The Commons adalah situasi di mana sumber daya bersama dipakai dengan serakah tanpa aturan yang menyebabkan kerugian berupa rusak atau habisnya sumber daya atau kepemilikan bersama tersebut. Commons​​bisa berupa banyak hal, seperti laut, hutan, udara, energi, lahan, dll. Situasi ini merupakan situasi nyata yang sedang berlangsung di kehidupan dan merupakan sebuah ancaman bagi keberlangsungan hidup umat manusia.

Tragedy of The Commons dapat diproyeksikan pada beberapa hal, diantaranya adalah penggunaan sumber energi tidak terbarukan, sumber makanan seperti hasil laut, penggunaan lahan, penggunaan air bersih, udara bersih, dll. Penggunaan energi untuk kehidupan sehari-hari manusia hingga saat ini 85% masih bergantung pada sumber energi tidak terbarukan dari hasil pembakaran fosil. Dengan maraknya perusahaan-perusahaan dibidang energi tersebut, mereka saling berlomba untuk mendapatkan sumber yang banyak dan tidak mau kalah. Alhasil terjadi keserakahan dalam penggunaannya. Penggunaan berlebihan dan eksploitasi dari sumber energi tersebut dapat mengakibatkan habisnya sumber energi.

Selain penggunaan energi tidak terbarukan yang berlebihan berakibat buruk kepada persediaan energi, hal itu juga menyebabkan kerugian dalam kepemilikan bersama yang lainnya, yaitu lingkungan. Polusi dan pencemaran alam yang dihasilkan oleh penggunaan energi tidak terbarukan, salah satunya adalah udara bersih, sangat merugikan umat manusia. 

Contoh global dari Tragedy of The Commons adalah overpopulasi. Bumi mempunyai kapasitas dan daya tampung tersendiri untuk keberlangsungan hidup manusia. Namun, akan ada saatnya populasi mencapai tingkat di mana bumi tidak akan bisa menanggung kebutuhan seluruh individu, seperti persediaan makanan, lahan, bahkan udara bersih. Standar hidup pun akan menurun. Akibat yang ditimbulkan adalah kelaparan massal dan kerusakan lingkungan yang parah. Apakah kita bisa mencegah agar hal ini tidak terjadi?

Hal ini bisa dihindari dengan melaksanakan 3 hal, yang pertama yaitu aksi individu. Dapat dimulai dari kesadaran sendiri akan terbatasnya sumber daya yang ada di bumi, mengharuskan kita hidup berhemat dan tidak serakah dalam menggunakan apa yang kita punya. Namun, terkadang intensi masing-masing individu berbeda sehingga Hardin sendiri percaya bahwa hal tersebut tidak akan memecahkan masalah, menuntun kita kepada solusi kedua, yaitu Tata Kelola Internal. Maksud dari Tata Kelola Internal adalah perjanjian suatu komunitas dalam memakai sumber atau lahan kepemilikan bersama, hal ini dapat dilaksanakan di sebuah permukiman. Bagaimana jika masih ada individu serakah yang tidak mau menuruti perjanjian dan hanya ingin mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri? Maka diberlakukanlah solusi ketiga, yaitu Tata Kelola Eksternal. Tata Kelola Eksternal berupa regulasi-regulasi pemerintah dan sistem hukum yang mengatur tentang aturan penggunaan dan kepemilikan. Contohnya adalah Program Keluarga Berencana di Indonesia sebagai bentuk pencegahan overpopulasi, juga privatisasi lahan untuk mencegah rusaknya lahan akibat dari pemakaian diluar kapasitas tampung lahan tersebut. 

Menurut Hardin, permasalahan Tragedy of The Commons tidak bisa diselesaikan secara ilmiah, maupun kesadaran individu. Harus diadakan kebijakan-kebijakan yang kuat dan pelaksanaannya yang tegas oleh pemerintah dan orang-orang yang berkuasa dalam pencegahannya. Dengan begitu, permasalahan ini diharapkan tidak akan terjadi. Namun, sifat serakah manusia yang sudah mendarah daging juga merupakan salah satu faktor yang kuat dalam tragedi ini. Maka pemecahan solusi ini kembali lagi ke individu masing-masing dan menjadi pembelajaran bagi kita, untuk tidak berlebihan dalam hal apapun.

Source: 

Hardin, G. (1968), The Tragedy of the Commons, Science, Volume 162, Issue 3859, pp. 1243-1248.

Penulis: Honesty Saffira Putri

Teknik Lingkungan, USAKTI, 2019

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *