APAKAH PANDEMI MENGUBAH POLA HIDUP MANUSIA DI BUMI?

Pada pandemi Covid-19 ini, kita dikejutkan oleh sejumlah perubahan yang dialami bumi, terutama isu polusi udara. Sebelumnya, isu polusi ini menjadi polemik di berbagai negara yang tak kunjung bisa terselesaikan.

Kita semakin terbiasa dengan lingkungan dan pola kebiasaan “New Normal” di masa pandemi ini. Adanya kebijakan lockdown  tentunya mengubah pola konsumen masyarakat yang lebih memilih transaksi layanan online dikarena akses keluar rumah dibatasi. Saat ini banyak usaha-usaha makanan lebih banyak menerima pesan antar dan mayoritas menggunakan plastik sekali pakai untuk pengemasannya. Ternyata hal ini berdampak pada kualitas lingkungan. Permasalahan sampah plastik ini menjadi perihal yang pengelolaannya sangat disorot saat ini.

Sumber : Tumpukan sampah plastik/Pixabay

Belum lagi persoalan baru muncul akibat pandemi ini, isu lingkungan yang masih hangat-hangatnya di belahan bumi ini, yaitu limbah masker medis sekali pakai. Menurut KEMENKES timbulan limbah medis mencapai 294.66 ton/hari (Mei 2020). Upaya penanganan yang masih minim yang akan berdampak besar terhadap lingkungan. Masker sekali pakai yang tidak dibuang sesuai aturan kerap berakhir di daratan maupun perairan seperti di sekitaran trotoar, saluran air, dan pantai sehingga membahayakan fauna maupun ekosistem yang ada.

Sepanjang tahun 2020, sudah didapatkan banyak bukti di lapangan bila masker bekas mampu menjerat hewan – hewan seperti burung dan penyu yang berujung pada kematian. Belum lagi, pengelolaan atas limbah masker sekali pakai tersebut tidak dapat dilakukan dengan mengikuti pola penanganan dan pengurangan limbah yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012. Dibutuhkan pengelolaan limbah yang tepat untuk mencegah penyebaran penyakit, meminimalkan dampak lingkungan, dan memanfaatkan potensi keuntungannya untuk pemanfaatan lebih lanjut.

Sumber : UNCTAD.ilustrasi

Bagaimana Sih Cara Penanganan Limbah Masker di Masyarakat ?

Khususnya di masyarakat, sampah masker harus dikelola sesuai dangan penanganannya jadi sangat berbeda dengan sampah rumah tangga biasa. Pemakaian masker ini diwajibkan oleh pemerintah dalam hal upaya pencegahan penularan virus bagi siapapun yang beraktivitas di luar rumah. Di sisi lain, sampah masker ini juga merupakan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) sehingga memerlukan perlakuan khusus dalam pengelolaannya dibandingkan sampah lainnya.

Sumber : ANTHONY WALLACE/AFP

Pada tingkatan rumah tangga, sampah masker harus digunting terlebih dahulu, rusak talinya dan robek tengah sehingga tidak dapat digunakan ulang karena dikhawatirkan masker bekas pakai dilakukan daur ulang dan dijual kembali di pasar, dibungkus menggunakan kantong plastik sebelum dibuang. Masker bekas merupakan sampah yang harus dibuang atau diolah di tempat pengelolaan sampah (TPS) karena termasuk dalam kategori sampah non-daur ulang. Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 56 Tahun 2015 tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Pengelolaan Limbah B3 dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan, limbah masker dikategorikan sebagai limbah medis yang membutuhkan penanganan khusus (Ika, 2020). Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), limbah medis seperti masker dari Covid-19 dapat diolah dengan cara yang sama seperti limbah medis biasa.

Tingginya timbulan limbah masker tentu berhubungan dengan kendala yang dihadapi dalam pengelolaan limbah masker itu sendiri. Kurangnya edukasi kepada masyarakat dan belum adanya tata kelola penanganan limbah medis Covid-19 di rumah tangga menjadi faktor peningkatan timbulan limbah medis masker di lingkungan. Peningkatan limbah masker ini di masa pandemi tidak hanya berdampak bagi lingkungan, namun juga berpotensi menularkan virus ke masyarakat sekitar.

Bersih itu bukan hanya aspirasi tetapi sebuah tindakan. Mari menyelamatkan bumi dengan hal-hal yang kecil untuk dampak besar di masa mendatang.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *