PANDEMI, TIDAK HANYA MENYAKITI

Oleh Mulyo Hartono, Staff Dept. Dalam Negeri PB IMTLI

Hai Sobat IMTLI, Salam Lestari, sebagaimana yang kita tahu bahwa sampai liputan ini dibuat, pandemi covid-19 masih berlangsung, memang bukan waktu yang singkat dan tanpa kita sadari bahwa kita telah hidup berdampingan dengan pandemi covid-19 sejauh ini. Telah banyak permasalahan yang timbul akibat pandemi covid19, tak terhitung berapa tetesan air mata yang telah tumpah ke pipi para korban dan keluarga korban. Hampir semua sektor porak poranda akibat pandemi covid-19. Mulai dari circle pertemanan yang berkurang, pekerjaan yang mulai hilang bahkan nyawa-nyawa korban yang telah melayang, tak lain dan tak bukan adalah sebagian dampak dari pandemi covid-19.

Namun sebagai manusia, kita tak boleh menyerah. Bagai dua sisi mata uang yang berdampingan, pandemi covid-19 tidak hanya menyakiti namun juga memperbaiki.

Mungkin teman-teman akan bertanya “Apa yang diperbaiki oleh pandemi ini? Apa kalian tidak melihat betapa rusaknya kehidupan sosial masyarakat di era pandemi?” Baik, sebagai pegiat lingkungan, mari kita bedah sedikit demi sedikit dari aspek lingkungan. Izinkan penulis untuk mengambil contoh kasus di wilayah kelahiran penulis. Kota Jakarta, Kotanya epicentrum pandemi covid-19.

Pemerintah selaku pembuat kebijakan di Indonesia telah melakukan beragam upaya guna menekan angka penyebaran covid-19, salah satunya dengan meminimalisir mobilitas masyarakat untuk menjauhkannya dari kerumunan, sebut saja dengan PSBB dan PPKM. Mari kita membahas perihal Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), suatu upaya awal pemerintah dalam penanganan covid-19 baik di Jakarta maupun di Indonesia. Pemerintah telah menghimbau semua orang untuk tinggal di rumah. Kantor-kantor, sekolah dan banyak pusat perbelanjaan ditutup. Banyak pabrik juga menghentikan operasionalnya dan meliburkan karyawannya. Semua itu, membuat pusat bisnis, pusat pemerintahan, dan jalanan menjadi sepi dan lengang di hampir seluruh kota di Indonesia. Dampak positifnya, polusi udara menjadi berkurang. Orang menjadi lebih mudah melihat langit biru dan kualitas udara yang semakin bersih.

Pengamat lingkungan mengatakan bahwa kualitas udara di Jakarta telah membaik selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diterapkan yang ditandai dengan menurunnya tingkat gas polutan yang disebabkan oleh kendaraan. Walaupun seperti itu, nanopartikel PM 2.5 dinilai masih konsisten di atas batas tidak sehat jika mengacu pada standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), namun jika mengacu pada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, maka kondisi ini masih disebut masuk ke dalam ambang batas. (Terdapat perbedaan standar antara WHO dan KLHK).

Menurut pernyataan dari Organisasi peduli lingkungan Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih (CREA), bahwa emisi karbon dioksida dunia tercatat mengalami penurunan akibat karantina Covid-19 yang diterapkan diberbagai negara. Hal itu tertuang dalam sebuah analisis pertama mengenai sebaran emisi karbon dunia tahun ini. (BBC News Indonesia). Analisis yang diterbitkan pada 19 Mei dalam Nature Climate Change itu mencatat penurunan hingga 17% di bulan April jika dibandingkan tahun lalu. Secara global, puncak penurunan itu terjadi pada 7 April. Hampir setengah (43%) dari penurunan emisi global selama puncak lockdown berasal dari transportasi, seperti perjalanan mobil. CREA juga menambahkan bahwa di Indonesia, penurunan emisi maksimum mencapai 18,2%.

Suasana gedung bertingkat tersamar kabut sebelum pandemi covid-19
(kiri) dan saat PSBB era pandemi covid-19 (kanan)

Menurut pengamatan studi oleh organisasi peduli lingkungan Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih (CREA), tingkat gas Nitrogen Dioksida (NO2) di Jakarta turun sekitar 40% dari level gas tersebut pada tahun lalu.Hal itu tercatat selama masa bekerja dari rumah yang mulai diberlakukan sejak pertengahan Maret yang kemudian disusul PSBB di bulan April dalam upaya menekan penyebaran Covid-19. Namun demikian, studi itu juga mencatat sebaran PM 2.5, atau partikel udara yang berukuran lebih kecil dari 2.5 mikron, pada periode itu masih konsisten. Berdasarkan hasil pengukuran kualitas udara ambien (Ambient Air Quality Monitoring /AAQM) pada 10 hari pertama pelaksanaan social/physical distancing masih menunjukkan kategori Tidak Sehat dengan nilai PM2,5 rata-rata 44,55 µg/m3. Menurut CREA, kondisi ini mengonfirmasi lebih jauh penelitian sebelumnya yang menemukan bahwa kualitas udara ambien Jakarta sangat dipengaruhi oleh polutan yang berasal dari wilayah tetangga, terutama dari pembangkit listrik dengan batu bara.

Kawasan Jalan Jenderal Soedirman, Dukuh Atas, Jakarta Pusat yang
sepi dan lengang
Kawasan Senayan, Jakarta Selatan yang sepi dan lengang membuat udara menjadi bersih.

Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Bondan Andriyanu mengatakan justru ada peningkatan nilai PM2.5 selama pelaksanaan social distancing di Jakarta pada 10 hari pertama, yang kemungkinan karena ada sumber pencemaran yang lain.

“Walaupun saat-saat sekarang ini banyak yang sudah melakukan WFH (work from home), yang asumsinya sumber pencemar dari transportasi sudah berkurang, tapi datanya justru terjadi peningkatan PM 2.5. Ini artinya bisa jadi ada sumber lain (tidak bergerak) yang masih berkontribusi pada pencemaran udara, semisal industri, PLTU Batubara, pembakaran sampah, dan yang lainnya,” kata Bondan 

Dia mengatakan perbaikan kualitas udara harus bersumber dari kebijakan jangka panjang yang kemudian juga mengubah kebiasaan masyarakat. “Dan ini akan berjalan dengan baik apabila didukung oleh sebaran alat pantau udara yang memadai, riset inventarisasi emisi yang regular, upaya pengendalian sumber pencemaran udara berdasarkan hasil inventarisasi emisi, serta keterbukaan data tentang pencemar udara dari lembaga terkait,” tambahnya.

Nah sobat IMTLI, sudah tergambarkan dengan cukup jelas ya, bahwa pandemi tidak hanya menyakiti namun juga dapat mengobati. Self purification yang dilakukan oleh alam memang banyak rupanya, mungkin salah satunya adalah dengan adanya pandemi ini.

Yuk kita bersama-sama meneruskan hal baik yang terjadi dengan menjaga lingkungan sekitar kita, banyak banget loh yang bisa kita lakukan. Jika kendaraan bermotor adalah mayoritas penyabab terciptanya polusi di ingkungan kita, ayo kita mulai campaign untuk bersepeda, berjalan santai dan kegiatan lain yang tidak perlu mengeluarkan emisi kendaraan bermotor

Dimulai dari kita, untuk kehidupan dan lingkungan yang lebih baik

Salam Lestari

DAFTAR PUSTAKA

D Rizi, U.F., et al. 2019. “Analisis Dampak diterapkannya Kebijakan Working From Home Saat Pandemi Covid-19 Terhadap Kondisi Kualitas Udara dI Jakarta.” Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika 6(3) 6-14.

Fajar, J, and A. Wisuda. 2020. Setelah 28 Tahun, Kualitas Udara di JakartMembaik. April 6. Accessed September 13, 2021. https://www.mongabay.co.id/2020/04/06/setelah-28-tahun-kualitas-udaradi-jakarta-membaik/.

Ikhsanudin, A. 2020. Pemprov DKI Klaim Kualitas Udara Jakarta Membaik 50 Persen saat Pandemi COVID-19. September 23. Accessed September 13, 2021. https://news.detik.com/berita/d-5184489/pemprov-dki-klaimkualitas-udara-jakarta-membaik-50-persen-saat-pandemi-covid-19.

Tambunan, L. 2020. Kualitas udara Jakarta selama PSBB membaik, namun ‘tingkat polutan berbahaya PM 2.5 tetap konsisten’. Mei 24. Accessed September 13, 2021. https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-52755813.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *